Minggu, 27 November 2011

PENGINDERAAN JAUH


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang
Penginderaan adalah upaya untuk mengetahui suatu objek dengan menggunakan sensor (alat pengindera), baik sensor alamiah maupun sensor buatan. Sensor alamiah adalah berupa alat-alat indera, seperti mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Sensor buatan berupa kamera, sonar, magnetometer, radiometer dan scanner.
Dalam makalah ini kami membahas tentang penginderaan jauh dan hal-hal yang berkaitan dengan penginderaan jauh.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara membedakan citra satelit berdasarkan spektrum elektromagnetik, sensor dan wahana yang digunakan?
2.      Bagaiman pola dan ciri kenampakan alam dari hasil pemetaan?
3.      Bagaimana cara mengidentifikasi bentang alam dan bentang budaya melalui citra penginderaan jauh?
C.    Tujuan
·         Mengetahui apa itu penginderaan jauh.
·         Mengetahui hasil-hasil penginderaan jauh.
·         Mengetahui manfaat penginderaan jauh.
·         Mengetahui keunggulan penginderaan jauh.
·         Mengetahui keterbatasan penginderaan jauh.
D.    Metode Penulisan
Penyusunan makalah ini menggunakan metode pengkajian dengan literaturnya dari berbagai sumber.





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain. Contoh dari penginderaan jauh antara lain satelit observasi bumi, satelit cuaca, memonitor janin dengan ultrasonik dan wahana luar angkasa yang memantau planet dari orbit. Di masa modern, istilah penginderaan jauh mengacu kepada teknik yang melibatkan instrumen di pesawat atau pesawat luar angkasa dan dibedakan dengan penginderaan lainnya seperti penginderaan medis atau fotogrametri. Walaupun semua hal yang berhubungan dengan astronomi sebenarnya adalah penerapan dari penginderaan jauh (faktanya merupakan penginderaan jauh yang intensif), istilah "penginderaan jauh" umumnya lebih kepada yang berhubungan dengan teresterial dan pengamatan cuaca.
Dan dapat disimpulkan bahwa penginderaan jauh adalah suatu ilmu, seni, dan teknik dalam usaha untuk mengetahui benda, gejala, dan area dari jarak jauh dengan menggunakan alat pengindera berupa sensor buatan. Sensor buatan yang digunakan dalam penginderaan jauh dapat berupa kamera, sonar, radiometer, atau magnetometer yang dipasang pada wahana pesawat terbang, satelit, pesawat ulang alik, dan sebagainya.
Adapun pengertian pengindraan jauh menurut beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
  1. Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).
  2. Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh.
  3. Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.
B.     Hasil-hasil Penginderaan Jauh
Telah diketahui bahwa objek-objek yang ada di muka bumi dapat direkam oleh sensor. Karena kamera atau sensor letaknya jauh dari objek yang diindera, maka diperlukan tenaga yang dapat dipancarkan/dipantulkan oleh objek atau benda tersebut.   
Komponen penting dalam penginderaan jauh antara lain :         
1.      Tenaga
Dalam penginderaan jauh digunakan tenaga yang bersifat alamiah yaitu sinar matahari, sinar bulan, maupun sinar buatan jika waktu pemotretan dilakukan malam hari. Yang umum digunakan adalah sinar matahari. Sinar matahari dalam mencapai permukaan bumi sangat dipengaruhi oleh waktu, letak, dan kondisi cuaca setempat.
Penginderaan yang menggunakan tenaga sinar matahari disebut sistem pasif. Sedangkan kalau menggunakan tenaga buatan disebut sistem aktif.
2.      Objek
Objek adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran dalam penginderaan jauh, antara lain meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer, dan litosfer.
3.      Sensor
Sensor adalah suatu benda yang digunakan untuk merekam objek-objek di alam. Tiap sensor mempunyai kepekaan yang berbeda-beda pada bagian spektrum elektromagnetik. Selain itu, kepekaan sensor juga berbeda-beda dalam merekam objek terkecil yang masih dapat dikenali dan dibedakan terhadap objek lain yang ada di sekitarnya. Kemampuan sensor menyajikan gambar objek lain yang terkecil disebut kualitas sensor. Sensor berdasarkan proses perekamannya, dibedakan menjadi dua macam.
a)      Sensor Fotografik adalah sensor yang berupa kamera yang bekerja pada spektrum tampak mata dan menghasilkan foto atau citra.
b)      Sensor Elektromagnetik adalah sensor bertenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik yang beroperasi  pada spektrum yang lebih luas, yaitu dari sinar X sampai gelombang radio dan menghasilkan foto atau citra.
Tenaga terkait dengan jenis sensor yang digunakan di dalam penginderaan jauh antara lain berupa.
·         Tenaga bunyi                     : jenis sensor sonar
·         Tenaga elektromagnetik    : jenis sensor kamera, termometer,
                                      dan sebagainya
·         Tenaga gravitasi                : jenis sensor gravitometer
·         Tenaga magnetik               : jenis sensor magnetometer
·         Tenaga seismik                  : jenis sensor seismograf/seismometer

4.      Citra/Keluaran
Citra adalah gambar objek yang tampak pada cermin melalui lensa kamera atau tampak langsung pada hasil cetakan. Benda yang tergambar pada citra dapat dekenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor. Tiga ciri yang terekam oleh sensor adalah ciri spasial, ciri temporal, dan ciri spektural.
C.    Pemanfaatan Penginderaan Jauh
Ø  Bidang Kehutanan
Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.
Ø  Bidang Penggunaan Lahan
Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukunglahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya permukiman.
Ø  Bidang Pembuatan Peta
Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi. Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.
Ø  Bidang Meteorologi (Meteosat, Tiros, Dan Noaa)
Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut :
a.       Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara.
b.      Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon.
c.       Mengamati sistem/pola angin permukaan.
d.      Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.
Ø  Bidang Oseanografi (Seasat)
Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut :
a.       Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m).
b.      Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).
c.       Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.
d.      Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).
Ø  Bidang Hidrologi (Landsat/Ers, Spot)
Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut :
a.       Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.
b.      Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
c.       Pemantauan luas daerah intensitas banjir.
Ø  Bidang Geofisika Bumi Padat, Geologi, Geodesi, Dan Lingkungan (Landsat, Geosat)
Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai berikut :
a.       Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS.
b.      Menentukan struktur geologi dan macam batuan.
c.       Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik.
d.      Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara).
e.       Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
f.       Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri Hartati Soenarmo MSP, 1993)
D.    Keunggulan dan Keterbatasan Citra Penginderaan Jauh
Diukur dari jumlah penggunaan dan frekuensinya, akhir-akhir ini penggunan citra penginderaan jauh semakin meningkat. Ada beberapa alasan yang melandasi peningkatan penggunaan citra penginderaan jauh.
1.      Citra menggambarkan objek atau daerah secara lengkap dengan wujud dan letak yang mirip wjud dan letak sebenarnya di muka bumi. Sebagai akibatnya, maka citra merupakan alat yang baik sekali bagi pembuatan peta, baik sebagai sumber data maupun sebagai kerangka letak.
2.      Citra menjadi satu-satunya sumber untuk menetapkan daerah bencana seperti daerah yang sedang dilanda banjir dan gempa bumi secara cepat.
3.      Citra dapat dibuat pada periode ulang yang pendek, yaitu tiap 16 hari bagi citra Landsat IV, tiap 6 jam bagi citra satelit cuaca NOAA, dan tiap setengah jam bagi citra satelit GMS. Oleh sebab itu, citra merupakan alat yang baik sekali untuk membantu perubahan cepat, seperti pengurangan luas hutan, pemekaran kota, penaksiran luas tanaman pertanian, aktivitas vulkanik suatu gunung berapi yang menunjukkan tanda-tanda akan meletus dan lain-lain.
Ada dua keterbatasan utama dari citra penginderaan jauh, yaitu sebagai berikut :
1.      Tidak semua data dapat diinterpretasi. Data yang diperoleh, terbatas pada data objek atau gejala yang tampak langsung pada citra. Kelompok objek atau gejala ini meliputi jenis tanah, jenis batuan, air tanah, kualitas perumahan, dan pencemaran air. Objek atau gejala yang tidak mungkin disadap datanya dari citra antara lain migrasi, susunan penduduk, dan produksi padi per hektar.
2.      Ketelitian hasil interpretasi citra sangat tergantung pada kejelasan wujud objek atau gejala pada citra.
E.     Membedakan Citra-citra Satelit
Citra satelit atau citra nonfoto adalah citra yang cara pemotretannya dari luar angkasa melalui satelit. Citra nonfoto dapat dibedakan berdasarkan spektrum elektromagnetik, sensor, dan wahana yag digunakan.
1.      Spektrum Elektromagnetik
Berdasarkan penggunaan spektrum elktromagnetik, citra nonfoto dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu citra inframerah termal dan citra radar.
Citra inframerah termal ialah citra yang dibuat dengan spektrum inframerah termal. Penginderaannya didasarkan atas beda suhu objek dan daya pancarnya yang tercermin dengan rona atau warna yang berbeda.
Citra radar ialah citra yang disebut dengan spektrum glombang mikro. Citra radar menggunakan sistem aktif atau tenaga buatan. Disamping itu juga ada citra glombang mikro yang menggunakan sistem pasir atau tenaga alamiah.
2.      Sensor
Berdasakan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi dua, yaitu citra tunggal dan citra multispektral. Citra tunggal adalah citra yang dibuat dengan sensor tunggal. Citra multispektral adalah citra yang dibuat dengan saluran sensor jamak. Pada Landsat, citra multispektral sering dibedakan menjadi dua, yaitu citra Return Bean Vidicon (RBV) yang dibuat dengan kamera Return Bean dan citra Multi Spektral Scanner (MSS) dan dibuat dengan sensor MSS.
3.      Wahana
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi dua, yaitu citra dirgantara dan citra satelit. Citra dirgantara adalah citra yang dibuat dengan wahana yang berbeda di udara, misalnya citra inframerah termal, radar, dan MSS. Citra satelit adalah citra yang dibuat dari angkasa luar.
Citra satelit dapat dibedakan menjadi empat, yaitu :
a.       Citra satelit untuk penginderaan planet. Misalnya citra satelit Ranger dan Viking (AS) serta citra satelit Runa dan Venera (Rusia).
b.      Citra satelit untuk penginderaan cuaca. Misalnya citra NOAA (AS) dan citra satelit Meteor (Rusia).
c.       Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Misalnya citra Landsat (AS), citra Soyuz (Rusia), dan citra SPOT (Prancis).
d.      Citra satelit untuk menginderakan laut. Misalnya citra Sesaat (AS) dan citra MOS (Jepang).
F.     Pola dan Ciri Kenampakan Alam Dari Hasil Pemetaan
  1. Pola dan Ciri Kenampakan Alam dari Hasil Pemetaan
Menafsirkan (menginterpretasi) peta adalah tindak lanjut dari membaca peta. Membaca dan menafsir merupakan suatu kesatuan yang bulat. Artinya, dalam membaca peta sudah sekaligus menafsir peta.
Interpretasi peta terdiri atas dua bagian, yaitu : interpretasi fisis dan interpretasi manusia.
a.       Interpretasi Fisis
-          Relief
Apabila dalam peta tergambar puncak-puncak pegunungan yang saling berdekatan dengan ketinggian yang seragam, maka dapat diperkirakan daerah tersebut bekas dasar lautan yang terangkat ke atas dan kemudian mengalami erosi lanjut.
-          Hidrografi
Pola aliran sungai yang banyak belokannya menunjukkan bahwa daerahnya datar, gradien kecil, dan banyak terjadi erosi ke samping (lateral).
Pola aliran sungai yang lurus menunjukkan daerah tersebut daerah yang tinggi dan miring. Daerah semacam itu mempunyai gradien sungai yang cukup besar, banyak jeram, dan lembah sungai berbentuk V.

  1. Interpretasi Manusia
Pola distribusi penduduk dapat memberikan petunjuk tentang keadaan relief suatu daerah, keadaan transportasi, dan tata air suatu tempat, dengan penjelasan sebagai berikut :
1.      Pola sebaran scattered atau tersebar merata menunjukkan relief daerah tersebut datar, tanah subur, dan transportasi mudah.
2.      Pola sebaran dot atau sporadis menunjukkan bahwa daerah itu merupakan daerah yang sulit, tidak ada air bersih, transportasi belum ada, daerah kapur, dan relief kasar.
3.      Daerah yang tergambar dengan pemutusan-pemutusan penduduk selalu dapat ditafsirkan bahwa daerah tersebut memiliki persediaan air cukup, relief tidak menyulitkan, transportasi mudah dan tanahnya subur.
G.    Identifikasi Bentang Alam dan Bentang Budaya Melalui Citra Penginderaan Jauh
Beberapa Bentang Alam Hasil Penginderaan Jauh :
1.      Sungai
·         Pada foto udara hitam putih, warna permukaan air seragam. Air yang jernih berwarna gelap dan air yang keruh berwarna merah. Pada foto udara infra merah, warna pancaran terlihat gelap.
·          Arah sungai dikenal dengan : a.) Lebar sungai, yaitu makin lebar ke arah muara, b.) Tempat-tempat pertemuan yang umumnya menyusut, lancip ke arah aliran sungai, c.) Perpindahan meander, di samping perpindahan ke bawah aliran sungai, d.) Beda tinggi, yaitu makin rendah ke muara, e.) Bentuk gosong sungai (river bar) yang runcing dan melebar ke arah aliran.
2.      Dataran Banjir
·         Permukaan rata dan letaknya lebih rendah dari sekitarnya. Kalau terjadi ketiraratan biasanya disebabkan oleh adanya danau tapak kudam point bar, bekas saluran, dan sebagainya.
·         Tampak sungainya, meskipun kadang-kadang jauh (bagian terlebar dari dataran banjir di sungai Missisippi mencapai 125 mil dari sungainya.
·         Rona seragam atau tidak seragam.
·         Pada umumnya digunakan untuk tanaman pertanian.


3.      Hutan Bakau
·         Tidak memiliki rona yang hitam karena daya pantul sangat rendah.
·         Tinggi pohon seragam, yakni antara 7 - 13 meter.
·         Tumbuh pada pantai yang becek atau tepi sungai hingga batas air payau.
4.      Hutan Rawa
·         Memiliki tinggi pohon yang berbeda-beda hingga 50 meter sehingga rona dan teksturnya tidak seragam.
·         Ke arah laut dibatasi oleh hutan bakau dan ke arah pedalaman dibatasi oleh hutan rimba.
·         Tampak air atau perairan di dekatnya.
Beberapa Bentang Budaya Hasil Penginderaan Jauh :
  1. Rumah, dapat dikenal melalui bentuk, ukuran, dan bayangannya. Rumah tinggal umumnya berukuran kecil; gedung sekolah umumnya berukuran relatif lebih besar dari rumah tinggal; stasiun dapat dikenal dengan ukuran yang relatif besar, letaknya tersendiri, terdapat tangki air, gerbong kereta api, dan sebagainya. Pabrik dapat dikenal dari ukurannya yang besar dan panjang, terdapat tangki air, cerobong asap, rel kereta api, dan sebagainya.
  2. Jalan dikenal dari rona dan teksturnya yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Bentuknya memanjang dan lebarnya seragam. Jalan aspal bentuknya relatif lebih lurus dan lebarnya lebih seragam. Jalan kereta api dikenal dengan adanya pembatas kereta api dan pertemuan yang tajam dengan jalan biasa.
  3. Persawahan, ditandai dengan kenampakan pematang-pematang yang memanjang dengan jalur-jalur tanaman. Bentuk sawah teratur pada tanah yang datar dan tak teratur pada daerah yang miring.
  4. Daerah padang rumput, ditandai dengan rona kelabu putih sampai kelabu sedang dan teksturnya halus.






































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar